Post Partum Blues

 

Asuhan keperawatan pada ibu dengan gangguan psikologi postpartum

Konsep dasar

Definisi

Depresi postpartum adalah keadaan emosi yang ditandai oleh episode menangis ringan sesaat dan perasaan sedih selama 10 hari pertama setelah melahirkan.

Psikosa postpartum adalah gangguan kepribadian derajat berat yang mengurangi kemampuan fungsi tanggung jawab ibu. Gejala-gejala ini diklasifikasikan sebagai psikosis manik depresi, psikologis postpartum, skizofrenia dan keadaan kebingungan toksik (toxic confusion).

 

Klasifikasi

1.       Postpartum blues

Tipe paling banyak dari depresi postpartum adalah postpartum blues, yang merupakan suatu gangguan penyesuaian terhadap kehidupan baru (kelahiran). Ibu mengalami depresi selama masa transisi tersebut kurang dari 1- 14 hari dengan puncak pada hari kelima.

2.       Severe postpartum depression

Disebut juga affective neurotic depression. Terjadi dengan singkat setelah kelahiran, tetapi mungkin tidak terdiagnosis untuk beberapa bulan postpartum. Ibu akan mengalami pengalaman   yang mendalam berupa perasaan kehilangan dan kesedihan yang menetap, diikuti oleh kecemasan, mudah tersinggung, gangguan tidur, kurang nafsu makan, dan perasaan bersalah.

3.       Women with bordline personalities

Ibu pada ambang gangguan emosi mempunyai beberapa gejala seperti di atas, tetapi ditambah oleh perasaan putus asa, hampa, dan tak berguna. Perasaan ini bisa saja timbul sebelum kehamilan, tapi menonjol pada saat kelahiran.

4.       Postpartum psychosis

Ibu dengan depresi psikotik kehilangan kontak dengan realita dan mengalami delusi dan disorientasi. Umumnya berhubungan dengan kesehatan bayi.

 

Etiologi

Penyebab depresi postpartum belum diketahui secara pasti, tetapi kemungkinan merupakan kombinasi dari aspek biologis, psikososial, dan stres situasional (Beck, 1999). Ini juga berhubungn dengan latar belakang depresi personal atau keluarga, dukungan sosial yang rendah, serta masalah selama kehamilan dan kelahiran (Stewart dan Robinson, 1998).

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan:

  1. Fluktuasi hormon seiring dengan kelahiran
  2. Latar belakang depresi, gangguan mental
  3. Kesulitan berhubungan dengan orang terdekat
  4. Kemarahan terhadap kehamilan
  5. Perasaan terisolasi atau tidak ada dukungan dari keluarga
  6. Kelelahan, kurang tidur, kekhawatiran finansial, dan melahirkan bayi cacat
  7. Kehamilan yang tidak diinginkan

 

Manifestasi Klinis

1. Postpartum

Depresi ringan, menangis, perasaan kehilangan, kelelahan dan konsentrasi menurun

2. Affective (neurotic) depression

Mencakup tahap ansietas, fobia, ketakutan akan membahayakan bayi, berat badan menurun, insomnia, mudah tersinggung, perasaan bersalah, bahkan apatis.

3. Women with borderline personalities

Bisa berfluktuasi dan neurotik depresi ke psikotik.

4. Postpartum psychosis

Delusi, halusinasi, disorientasi, serta rasa marah terhadap bayi.

 

Dampak Depresi pada Keluarga

Depresi postpartum bisa berakibat pada seluruh keluarga. Hal ini menciptakan ketegangan pada metoda koping yang bisa digunakan pada setiap anggota keluarga dan sering menimbulkan kesulitan dalam berkomunikasi. Selanjutnya stressor sering menjadi besar dan sebagai akibatnya anggota keluarga akan mengurangi interaksi dengan ibu yang depresi tersebut pada saat ia membutuhkan dukungan lebih. Komunikasi bisa terganggu karena penolakan ibu terhadap orang sekitarnya.

Pasangan merasakan ada beberapa perubahan dalam hidup mereka setelah kelahiran seperti perasaan kehilangan teman, kehilangan kontrol, marah, dan frustasi. Ibu yang depresi berinteraksi berbeda dengan bayinya dibanding dengan tidak depresi, mereka cenderung lebih mudah tersinggung dan merasa tidak kompeten menjadi seorang ibu (Meighan, 2000).

 

Diagnosis banding

Diagnosis banding harus membedakan  gangguan emosi atau gangguan perkawinan dan hubungan keluarga yang berat dapat membantu interpretasi gejala pada ibu ini.

 

Penatalaksanaan dan Pendidikan Ibu

  1. Terapi terbaik dari depresi tersebut adalah kombinasi dari psikoterapi, dukungan sosial, dan medikasi. Beberapa wanita mungkin membutuhkan ECT. Psikoterapi mungkin lebih berguna dalam membantu ibu untuk mengatasi perubahan hidup mereka. Pasangan dan keluarga terdekat harus ikut dalam sesi konseling, sehingga mereka bisa memahami apa yang mereka butuhkan.
  2. Pengobatan psikoterapi, obat-obatan penenang, dan peningkatan suasana hati atau gabungan obat-obat ini dapat diindikasikan. Terapi spesifik bergantung pada sifat gangguan psikiatri yang terdapat pada ibu.
  3. Antidepresan sering digunakan untuk depresi postpartum dan mungkin diteruskan selama 6 bulan atau lebih. Jika ibu ingin melanjutkan pemberian ASI, obat-obatan yang digunakan harus aman selama laktasi, karena hal ini dapat memengaruhi proses bonding (Lawrence dan Lawrence, 1999)
  4. Rawat  inap mungkin diperlukan untuk mencegah cedera diri atau kekejaman terhadap janin. Rawat inap mungkin diperlukan bila ada ansietas yang tidak tertahankan atau kelainan tingkah laku yang tidak dapat dikontrol.

 

sumber : buku asuhan keperawatan masa nifas

Tags: , , ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply